Daftar Blog Saya

Sabtu, 25 Oktober 2008

ETOS KERJA MUSLIM

ETOS KERJA MUSLIM

O people who take pleasure in a life that will vanish,
falling in love with a fading shadow

is sheer stupidity – (Ibn al-Qayyim)

Terlalu banyak kisah umat Islam terdahulu, yang dapat kita jadikan motivasi untuk berbuat yang terbaik di ladang pengabdian kita masing-masing, saat ini.

Kisah-kisah tentang kasih sayang, kepahlawanan, keberanian, keuletan dan kesungguhan, yang semuanya dibungkus semangat pengorbanan berbalut keikhlasan.

Suatu hari Rasulullah SAW berjumpa dengan Sa'ad bin Mu'adz Al-Anshari. Ketika itu Rasul melihat tangan Sa'ad melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari. "Kenapa tanganmu?," tanya Rasul kepada Sa'ad. "Wahai Rasulullah," jawab Sa'ad, "Tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku". Seketika itu beliau mengambil tangan Sa'ad dan menciumnya seraya berkata, "Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh api neraka".

Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi an-Naisaburi bercerita “Aku susun kitab ini yang disaring dari 300.000 hadits”.

Ya, Nama panjang diatas adalah nama asli Imam Muslim, dan kitab yang dimaksud adalah Sahih Muslim.

Cerita beliau menunjukkan bahwa upayanya adalah kerja agung sehingga hasil karyanya kemudian layak menjadi legenda.

Beliau pernah berkata, sebagai ungkapan gembira atas karunia Tuhan yang diterimanya: “Apabila penduduk bumi ini menulis hadits selama 200 tahun, maka usaha mereka hanya akan berputar-putar di sekitar kitab musnad ini ”. Subhnallah…

Di masa kini, dengan berbagai media informasi yang tersedia, sesungguhnya begitu mudah bagi kita untuk membedah, memetakan, memilah langkah demi langkah bagaimana pribadi muslim terbaik menjalankan perannya dalam panggung kehidupan. Kemudian mencontoh atau mengadopsinya.

Berdasar teladan sahabat dan ulama permulaan, berikut ini 5 Prinsip Kerja Seorang Muslim :

1. Landasan yang Benar. Kerja, aktifitas, ‘amal dalam Islam adalah perwujudan rasa syukur kita kepada ni’mat Allah SWT. (QS. Saba’ [34 : 13)

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ {سبأ/13}

2. Beorientasi Jangka Menengah dan Panjang. Seorang Muslim hendaknya berorientasi pada pencapaian hasil hasanah fi ad-dunyaa dan hasanah fi al-akhirah – QS. Al-Baqarah [002] : 201)

وِمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ {البقرة/201}

3. Berkaraker. Dua karakter utama yang hendaknya kita miliki: al-qawiyy dan al-amiin. QS. Al-Qashash [28] : 26

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ {القصص/26}

Al-qawiyy merujuk kepada : reliability, dapat diandalkan. Juga berarti, memiliki kekuatan fisik dan mental (emosional, intelektual, spiritual)

Sementara al-amiin, merujuk kepada integrity, satunya kata dengan perbuatan alias jujur, dapat memegang amanah.

4. Kerja keras. Ciri pekerja keras adalah sikap pantang menyerah; terus mencoba hingga berhasil. Kita dapat meneladani ibunda Ismail a.s. Sehingga seorang pekerja keras tidak mengenal kata “gagal” (atau memandang kegagalan sebagai sebuah kesuksesan yang tertunda)

5. Kerja cerdas. Cirinya: memiliki pengetahuan dan keterampilan; terencana; memanfaatkan segenap sumberdaya yang ada. Seperti yang tergambar dalam kisah Nabi Sulaeman a.s.

Jika etos kerja dimaknai dengan semangat kerja, maka etos kerja seorang Muslim bersumber dari visinya: meraih hasanah fid dunya dan hasanah fi al-akhirah.

Jika etos kerja difahami sebagai etika kerja; sekumpulan karakter, sikap, mentalitas kerja, maka dalam bekerja, seorang Muslim senantiasa menunjukkan kesungguhan

Sungguh menyedihkan ketika kita lihat seorang yang sangat rajin beribadah (ritual) namun semangatnya itu tidak tercermin pada pada produktivitas kerja di kantor misalnya, atau kualitas kerja di organisasi dan sosial.

Menurut kerangka konsep Manajemen Qolbu, bisa jadi ia berkarakter baik, tapi lemah.

Menurut Muhammad bin Hasan bin Aqil Musa Syarif dalam bukunya : ia saleh, tapi tak berdaya guna.

Mudah-mudahan kita tidak termasuk yang demikian. (end. Dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar: